Saat ini berwisata di Desa Wisata menjadi sebuah pilihan banyak orang dengan berbagai kalangan. Banyak sekali Desa Wisata yang ada di Indonesia. Dan sekarang aku mau berbagi cerita pengalaman ketika berwisata ke Desa Wisata yang ada di Bantul.

Tanggal 11 September 2021 pagi aku menuju ke titik kumpul Famtrip Bantul yaitu di Dinas Pariwisata DIY. Setelah semuanya lengkap kami berangkat bersama menuju ke Praon Cawan Desa Wisata Argodadi. Disini kita bertemu dengan kelompok lain yang berangkat dari Dinas Pariwisata Bantul. Lanjut melakukan registrasi dan pembagian serta goodiebag untuk semua anggota Famtrip nJlajah mBantul.

Desa Wisata Argodadi

Setelah melakukan registrasi kami semua dipersilahkan duduk dan juga disambut dengan tarian jathilan yang merupakan kesenian daerah khas Desa Argodadi. Acara ini tepatnya dilakukan di Wisata Praon Cawan, Argodadi.

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya dan membubarkan keberadaan kami yang sedang keliling ke stand – stand berbagai macam karya dan potensi yang ada di Desa Wisata Argodadi. Kami berlarian mencari tempat teduh. Tak lama kemudian hujan berhenti dan acara dilanjutkan dengan sambutan dan explore Wisata Praon Cawan.

Aku meuju ke bawah pinggir sungai untuk naik kapal menyusuri sungai. Sebelum naik perahu wajib menggunakan vest pelampung. Wah seru juga ternyata bisa naik perahu, tak lupa aku foto – foto dan mengambil video. Wahana wisata air selain perahu ini ada cano dan juga gethek. Hanya membayar  Rp 5000 sudah bisa naik perahu dan Rp 10.000 sudah bisa naik cano. Jujur, kalo aku engga berani kalau disuruh naik cano.

Di Desa ini juga terdapat kesenian tradisional seperti jatilan. Kuliner khas seperti Emping Garut, Emping jagung serta minuman tradisional yang bisa dinikmati oleh wisatawan.

Desa Wisata Tamantirto

Sesampai di Desa Tamantirto kami disambut dengan arak – arakan untuk menuju ke Padepokan Kusudiarjo. Disini kami disambut dengan meriah dengan tarian Jathilan Kreasi. Selain itu juga ada welcome drink makanan khas desa ini yaitu tiwul dan gatot serta minuman rempah. Sambutan dan juga sedikit penjelasan tentang Desa Wisata Tamantirto.

Setelah ceremony selesai kami lanjut untuk keliling Desa Wisata Tamantirto dengan menggunakan sepeda onthel. Banyak banget pilihan sepeda namun aku memilih untuk mbonceng saja. Karena semua sepeda tinggi – tinggi dan menggunakan rem yang tidak biasa. Daripada aku keliling cuma nuntun sepeda lebih baik mbonceng. Pertama kami menuju ke tempat Jemparingan, kemudian Sekretariat Bumbon Project dan yang terakhir ke Omah Harihari.

Di Jemparingan ini banyak anak – anak yang belajar jemparingan. Karena tiap hari mereka selalu belajar disini. Selanjutnya Sekretariat Bumbon Project merupakan tempat berkumpulnya para seniman dan orang yang punya passion dibidang seni. Banyak sekali karya yang sudah mereka buat. Oiya uniknya Bumbon Project ini merupakan komunitas khusus perempuan. Dan yang terakhir ialah Rumah Harihari yang juga merupakan rumah seni tempat berkumpulnya para seniman.

Desa Wisata Sendangsari

Desa Wisata Sendangsari yang terkenal dengan Desa Mangir. Yang merupakan Desa Wisata Budaya dan Religi. Disini kami menuju ke pendopo untuk sebuah diskusi dan sharing mengenai Desa Mangir. Kami disini sambil makan siang, makan siang kali ini yaitu hidangan khas Desa Mangir ada nasi, ayam kecap, tahu & kikil, dan yang khasnya yaitu gudeg manggar. Setelah sambutan, sharing dan makan siang selesai kami melanjutkan untuk explore Desa Mangir yaitu napak tilas petilasan Ki Ageng Mangir. Disini kami keliling petilasan sambil dijelaskan tentang petilasan ini. Disini suasana pedesaan dan pemandangan yang sejuk alami. Sampai sekarang Desa Wisata Mangir ini banyak dikunjungi oleh wisatawan.

Setelah itu kami lanjut untuk ke tempat penangkaran klanceng dan melihat proses pembuatan madu klanceng. Madu ini menjadi salah satu madu khas Desa Wisata Mangir.

Desa Wisata Kiringan

Desa Wisata selanjutnya ialah Desa Wisata Kiringan atau Sentra Jamu. Welcome drink kami ialah jamu kunyit asem. Disini kami melihat demo cara membuat jamu menjadi serbuk kemasan. Dijelakan mulai dari bahan dan juga prosesnya.

Setelah itu kami dipersilahkan untuk menikmati jajanan tradisional khas yaitu kacang rebus, singkong rebus dan kue ku. Sambil mendengarkan paparan tentang Desa Wista Kiringan. Selanjutnya kami keliling sekitar untuk mencari tanaman obat. Yang aku ingat tanaman tapak dara sebagai obat diabetes, kembang sepatu sebagai obat batuk dan panas dalam, bunga belimbing sebagai obat batuk dan bunga pukul 4 bijinya sebagai obat jerawat.

Destinasi Wisata Watu Goyang

Tempat terakhir yang kami kunjungi dalam rangkaian acara Njlajah mBantul Milang Kori #1 bersama blogger dan influencer yaitu Watu Goyang. Sesampai disini yang aku lakukan ialah foto-foto dan membuat video. Padahal di pendopo ada musik dan nyanyian sambutan. Tak lama kemudian kami lanjut naik ke puncak Watu Goyang. Udara dingin dan angina kencang menyambut kami diatas puncak. Sunset terlihat samar namun tetap indah untuk dipandang dan diabadikan.

Setelah maghrib kami turun menuju ke pendopo untuk menikmati makan malam yang sudah disediakan. Kemudian penutupan acara dan sayonara untuk pulang kembali ke Dinas Pariwisata DIY. Lalu lanjut untuk pulang kerumah masing – masing.